Minggu, April 12, 2026

Sepinggan Menuju Sunyi

Samarinda tahun 2002 adalah kepulauan debu batubara dan mimpi-mimpi yang menguap di atas sungai. Di tepian Mahakam, Aris berdiri dengan ijazah Teknik Geologi keluaran PTN beken di Jogja yang masih licin, menatap tongkang-tongkang raksasa yang melintas membawa kekayaan bumi ke muara, sementara ia sendiri merasa terdampar di hulu ketidakpastian. Pertemuan itu bermula dari sebuah kebetulan di atas kapal klotok yang membelah arus sungai menuju hulu ke arah Kota Bangun. Di tengah kebisingan mesin kapal dan kepulan asap solar, Aris yang tengah mencoba peruntungan mencari kerja bertemu dengan keluarga kecil Giring dan Lina. Percakapan singkat tentang tujuan hidup yang tidak menentu di tanah rantau membuat Giring, lelaki Dayak asal Melak yang tulus, menawarkan sebuah kamar di rumahnya. Di kota yang sedang bersolek dengan emas hitam ini, langkahnya—yang awalnya didorong ambisi besar—justru membawanya ke sebuah rumah kayu yang berdiri letih di atas rawa-rawa sunyi. Di sana, di balik dinding papan yang lembap dan bau air payau yang mengepung, ia tidak hanya menemukan tempat berteduh, tetapi juga sepasang mata milik Lina yang menyimpan kesepian sedalam palung sungai. Aris tidak pernah menduga bahwa di atas lantai titian yang berderit setiap kali dipijak itu, ia akan mulai menyusun sebuah pengkhianatan yang perlahan-lahan menggoyang fondasi hidup keluarga yang telah memberinya nasi.

Rabu, April 01, 2026

Instruktur Sujud Tanpa Syahadat

Sore itu, kawasan Grand Depok City sedang memamerkan sisi tenangya. Sinar matahari yang mulai miring menyelinap di antara rimbun pohon peneduh di sepanjang jalan kembar yang lebar, namun di ruang guru SD Pemuda Bangsa, suasana justru terasa sedikit lebih padat oleh urusan batin. Thomas duduk menekuni layar ponselnya dengan ketelitian seorang kurator seni yang sedang memeriksa keaslian lukisan. Di layar itu, sebuah pesan gambar masuk dari nomor Tante Bagas—wali murid yang lebih sering mengirim alasan izin sakit daripada laporan nilai. Namun, kali ini isinya berbeda: sebuah foto Bagas yang sedang bersujud di atas sajadah bergambar Masjid Nabawi yang posisinya miring, seolah-olah kiblat sedang bergeser beberapa derajat ke arah dapur. Thomas memicingkan mata di balik kacamatanya, menghitung titik tumpu tubuh bocah kelas lima itu dengan dahi berkerut. Sebagai seorang Katolik yang taat, syahadat tak pernah melintasi lidahnya, namun sore ini ia memikul beban teologis yang sungsang: ia harus memastikan sujud Bagas tidak menyerupai posisi orang yang hendak push-up, semata-mata karena ia tak ingin bocah itu tumbuh dengan saku spiritual yang bolong di kota yang riuh oleh urusan dunia.

advertisment