
Samarinda tahun 2002 adalah kepulauan debu batubara dan mimpi-mimpi yang menguap di atas sungai. Di tepian Mahakam, Aris berdiri dengan ijazah Teknik Geologi keluaran PTN beken di Jogja yang masih licin, menatap tongkang-tongkang raksasa yang melintas membawa kekayaan bumi ke muara, sementara ia sendiri merasa terdampar di hulu ketidakpastian. Pertemuan itu bermula dari sebuah kebetulan di atas kapal klotok yang membelah arus sungai menuju hulu ke arah Kota Bangun. Di tengah kebisingan mesin kapal dan kepulan asap solar, Aris yang tengah mencoba peruntungan mencari kerja bertemu dengan keluarga kecil Giring dan Lina. Percakapan singkat tentang tujuan hidup yang tidak menentu di tanah rantau membuat Giring, lelaki Dayak asal Melak yang tulus, menawarkan sebuah kamar di rumahnya. Di kota yang sedang bersolek dengan emas hitam ini, langkahnya—yang awalnya didorong ambisi besar—justru membawanya ke sebuah rumah kayu yang berdiri letih di atas rawa-rawa sunyi. Di sana, di balik dinding papan yang lembap dan bau air payau yang mengepung, ia tidak hanya menemukan tempat berteduh, tetapi juga sepasang mata milik Lina yang menyimpan kesepian sedalam palung sungai. Aris tidak pernah menduga bahwa di atas lantai titian yang berderit setiap kali dipijak itu, ia akan mulai menyusun sebuah pengkhianatan yang perlahan-lahan menggoyang fondasi hidup keluarga yang telah memberinya nasi.