Setiap pagi, Aris terbangun oleh suara mesin klotok yang membelah keheningan rawa dan aroma kopi yang diseduh Lina di dapur sempit. Giring biasanya sudah berangkat sejak buta warna, meninggalkan jejak sepatu berlumpur di atas titian kayu yang menghubungkan rumah mereka dengan jalan besar. Di rumah itu, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Aris. Sebagai sarjana geologi, ia terbiasa membedah struktur bumi yang solid dan pasti, namun di sini, di atas tanah rawa yang tidak stabil, ia justru merasa kehilangan pijakan. Sambil menunggu panggilan kerja dari perusahaan tambang yang tak kunjung datang, ia mulai mengisi kekosongan harinya dengan membantu Lina. Awalnya hanya hal-hal kecil, seperti mengangkut jeriken air atau memperbaiki jemuran yang miring, namun percakapan di antara mereka perlahan mulai melampaui batas basa-basi antara penyewa dan pemilik rumah.
Lina sering bercerita tentang Melak, tentang hutan yang mulai bising oleh gergaji mesin dan sungai-sungai jernih yang kini keruh. Di Samarinda, ia merasa seperti tanaman yang dicabut paksa dari akarnya, tumbuh merayap di atas rawa yang pengap bersama suami yang lebih sering bicara dengan nada tinggi ketimbang belaian. Aris mendengarkan dengan ketekunan seorang peneliti, namun yang ia temukan bukan mineral berharga, melainkan kerentanan seorang perempuan yang haus akan apresiasi. Saat ia menawarkan diri memboncengkan Lina ke pasar atau sekadar berkeliling kota dengan motor tua milik Giring, Aris merasa dirinya kembali memiliki fungsi. Di atas jok motor itu, di tengah hiruk pikuk debu jalanan Samarinda, jarak di antara punggung Aris dan jemari Lina perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kedekatan yang berbahaya.
Kedekatan itu tumbuh subur di bawah radar, seperti lumut yang melapisi tiang-tiang kayu di bawah rumah mereka. Aris merasa aman karena Giring hanyalah seorang pekerja kasar yang ia anggap tidak akan mampu membaca gelagat seorang intelektual. Namun, ia lupa bahwa lelaki yang hidup dari otot dan keringat biasanya memiliki insting yang lebih tajam terhadap perubahan suhu di rumahnya sendiri. Giring mulai menyadari bensin motornya yang selalu berkurang lebih banyak dari biasanya, atau bagaimana Lina mendadak lebih rajin merapikan rambut setiap kali Aris berada di ruang tengah. Ketegangan mulai merambat naik dari air rawa, merayap ke dinding-dinding papan, membuat udara di dalam rumah itu terasa lebih panas dari terik matahari Kalimantan yang paling benderang sekalipun.
Puncaknya terjadi pada suatu sore yang lembap, ketika mendung menggantung rendah di atas Mahakam. Giring pulang lebih awal dengan langkah yang tak lagi berirama di atas titian kayu. Ia tidak menemukan mereka di pasar atau di jalan raya, melainkan dalam sebuah keheningan yang terlalu intim di sudut rumah yang remang. Ledakan itu tidak terhindarkan. Suara Giring menggelegar, lebih keras dari mesin kapal batu bara, memaki Aris dengan segala sumpah serapah yang bisa keluar dari mulut seorang lelaki yang merasa harga dirinya diinjak-diinjak oleh orang yang ia beri tumpangan. Rumah kayu itu bergoyang hebat, seolah-olah tiang penyangganya di dasar rawa hendak patah, mencerminkan hancurnya dunia kecil yang coba dibangun Aris di atas fondasi yang salah.
Kabur dari kemarahan Giring bukan hanya berarti meninggalkan rumah di atas rawa itu, tetapi juga meninggalkan seluruh impiannya tentang Kalimantan. Malam itu juga, Aris mengepak tas ranselnya dengan tangan gemetar, sementara suara isak tangis Lina masih tertahan di balik kelambu yang robek. Tak ada lagi bincang soal geologi atau masa depan di perusahaan tambang. Temannya yang menggarap proyek AMDAL itu hanya bisa menggelengkan kepala saat mengantar Aris menuju terminal untuk melintasi jalanan trans-Kalimantan yang gelap menuju Balikpapan.
Pagi harinya, Aris tiba di Balikpapan dengan sisa keberanian yang nyaris habis. Di Bandara Sepinggan, ia sempat menatap landasan pacu yang berbatasan langsung dengan laut, tempat pesawat-pesawat membawa para eksekutif tambang menuju Jakarta dengan koper penuh harapan. Namun bagi Aris, Sepinggan bukan lagi pintu gerbang menuju kesuksesan, melainkan pintu darurat untuk melarikan diri dari rasa malu. Kabar tentang skandalnya telah sampai ke telinga ayahnya di Jakarta lewat sambungan telepon yang penuh amarah. Perintahnya mutlak: Aris harus segera menyingkir sebelum masalah ini meluas menjadi urusan adat atau kekerasan yang lebih parah.
Karena tiket pesawat yang mendadak terlalu mahal bagi sakunya yang tipis, Aris akhirnya berakhir di Pelabuhan Semayang. Di sana, di antara hiruk pikuk kuli panggul dan aroma air laut yang asin, ia menunggu kapal yang akan membawanya menjauh. Saat kapal perlahan meninggalkan dermaga Semayang, Aris berdiri di dek paling belakang, menatap garis pantai Balikpapan yang memudar. Ia teringat Lina dan rumah di atas rawa yang bergoyang itu. Ia datang sebagai seorang sarjana yang merasa tahu segala hal tentang struktur bumi, namun ia pulang sebagai lelaki yang baru sadar betapa rapuhnya fondasi moral yang ia bangun di atas tanah orang lain.
Perjalanan ke Surabaya menjadi babak baru yang hambar. Ayahnya telah menunggu di sana, menyiapkan sebuah posisi di sebuah perusahaan jasa konstruksi milik kerabat mereka. Surabaya yang padat dan berdebu semen memang memberinya pekerjaan, namun setiap kali ia melihat motor yang melintas atau mendengar suara papan kayu yang berderit, ingatannya terbang kembali ke Samarinda. Ia telah mendapatkan kemapanan yang ia cari, tapi ia tahu, di sebuah sudut rawa di tepian Mahakam, ada sebuah luka yang tak akan pernah bisa ia petakan dengan ilmu geodesi mana pun. Aris hidup dengan kenyamanan di Jawa, namun jiwanya tetaplah seorang pelarian yang tertinggal di hulu sungai yang gelisah.
Cerpen: Lais Abid
Tepian Sungai Cikumpa, Depok saat mengenang peristiwa 30 tahun lalu di Samarinda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar