Suatu sore di London beberapa tahun lalu seorang sopir bus keturunan Pakistan berdiri di depan televisi kecil di ruang tamunya. Wajahnya tegang. Di layar itu muncul nama anaknya yang baru saja memenangkan pemilihan Walikota London. Kota besar yang dulu hanya dikenalnya lewat rute bus dan jalan-jalan berkabut kini dipimpin anak lelaki yang pernah tumbuh di rumah susun sederhana kawasan Tooting.
Nama itu adalah Sadiq Khan.
Di tempat lain ribuan kilometer dari London sebuah kota yang tak pernah tidur juga sedang berubah arah. New York yang selama puluhan tahun menjadi simbol kapitalisme dunia memilih seorang politisi muda Muslim keturunan Asia Selatan sebagai walikotanya. Namanya Zohran Mamdani. Ia datang bukan dari dinasti politik mapan Manhattan melainkan dari lorong-lorong aktivisme komunitas dan kampanye akar rumput.
Dua kota Barat terbesar di dunia kini dipimpin dua nama Muslim.
Banyak orang melihatnya sekadar kemenangan politik biasa. Padahal di balik itu ada cerita panjang tentang ketakutan dunia modern terhadap identitas tentang luka pasca terorisme tentang imigrasi tentang ras dan tentang siapa yang dianggap pantas memimpin sebuah kota besar.
Setelah tragedi September 11 attacks dunia Barat berubah. Nama Muslim mendadak terasa asing di ruang publik. Bandara menjadi tempat penuh curiga. Masjid dijaga lebih ketat. Media dipenuhi wajah berjanggut dengan narasi perang dan radikalisme.
Dalam dua dekade terakhir Islam sering hadir bukan sebagai agama biasa tetapi sebagai isu keamanan. Di banyak negara Eropa politisi kanan tumbuh subur dengan menjual ketakutan. Mereka berbicara tentang imigran yang dianggap menggerus identitas nasional. Tentang kota-kota yang disebut kehilangan wajah lamanya. Tentang ancaman Islamisasi yang sesungguhnya lebih sering lahir dari propaganda politik ketimbang kenyataan sosial.
Di tengah arus itulah kemenangan Sadiq Khan terasa mengejutkan. London memilih seorang Muslim bukan untuk memimpin komunitas Muslim tetapi untuk memimpin seluruh kota. Ia menang bukan di distrik kecil melainkan di jantung bekas imperium Inggris yang selama ratusan tahun membentuk wajah kolonial dunia.
Namun kemenangan itu tidak datang dengan mudah. Khan berkali-kali menerima ancaman pembunuhan. Media kanan Inggris pernah menggambarkannya sebagai simbol kegagalan Barat menghadapi Islam. Ada politisi yang menyindir London telah berubah terlalu jauh karena dipimpin Muslim. Bahkan keamanan pribadinya harus dijaga ketat selama bertahun-tahun.
Tetapi Sadiq Khan tidak melawan dengan kemarahan identitas. Ia jarang tampil membawa simbol agama secara eksplisit. Ia lebih sering berbicara tentang tarif transportasi tentang udara bersih tentang harga rumah yang makin tak masuk akal bagi warga biasa. Ia memahami sesuatu yang sangat penting dalam politik modern bahwa orang mungkin takut pada identitas yang berbeda tetapi mereka lebih takut lagi pada hidup yang makin mahal.
Dan di situlah ia menang.
Ia membangun koalisi yang dulu terasa mustahil. Anak muda progresif memilihnya. Imigran Asia mendukungnya. Sebagian warga kulit putih kelas menengah pun tetap mencoblos namanya karena mereka melihatnya bukan sebagai Muslim semata melainkan administrator kota yang bekerja.
Di New York cerita itu muncul dengan wajah berbeda.
Zohran Mamdani lahir dari keluarga intelektual. Ayahnya akademisi terkenal. Ibunya sutradara film internasional. Tetapi jalan politiknya tidak dibangun dari pesta elite melainkan dari gerakan akar rumput.
Ia muncul di era media sosial ketika politik menjadi jauh lebih brutal. Setiap ucapan dipotong menjadi perang tagar. Setiap identitas dijadikan bahan bakar polarisasi.
Mamdani membawa isu Palestina ke ruang publik Amerika dengan keberanian yang membuat banyak orang marah. Ia mendukung transportasi murah layanan sosial dan perumahan yang lebih manusiawi. Lawan-lawannya menyebutnya terlalu kiri terlalu radikal terlalu Muslim.
Namun New York sedang lelah. Kota itu makin mahal. Anak muda sulit membeli rumah. Banyak pekerja hidup dari gaji ke gaji. Mamdani berhasil mengubah kemarahan ekonomi menjadi energi politik yang besar.
Sekali lagi agama tidak menjadi pusat kampanye. Tetapi agama tetap hadir sebagai bayangan besar di belakang panggung.
Karena itulah kemenangan dua tokoh ini bukan sekadar kemenangan individu. Mereka adalah tanda zaman.
Dunia sedang bergerak ke arah yang aneh dan saling bertabrakan. Di satu sisi kota-kota global makin cair. Anak muda tumbuh di sekolah multikultural. Mereka punya teman lintas agama dan lintas ras. Identitas campuran menjadi hal biasa. Seorang Muslim keturunan Pakistan bisa terasa lebih London daripada orang Inggris sendiri. Seorang Asia Selatan bisa terdengar lebih New York daripada warga asli Manhattan.
Tetapi di sisi lain ketakutan identitas juga tumbuh. Partai kanan bangkit di Eropa. Politik anti-imigran makin keras. Media sosial membuat kebencian menyebar jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Dunia menjadi makin global sekaligus makin cemas terhadap globalisasi.
Karena itu figur seperti Sadiq Khan dan Zohran Mamdani berdiri di garis depan pertarungan besar abad ini.
Mereka bukan hanya walikota. Mereka adalah simbol pertanyaan yang sedang diajukan dunia modern. Apakah sebuah kota besar bisa menerima pemimpin dari agama minoritas. Apakah demokrasi benar-benar membuka jalan bagi semua orang. Apakah identitas lama masih boleh memonopoli kekuasaan. Atau justru masyarakat sedang bergerak menuju dunia baru yang lebih cair dan lebih bercampur.
Belum ada jawaban pasti.
Yang jelas dua nama itu telah mengubah sesuatu.
Dulu banyak orang menganggap nama Muslim mustahil menang di pusat politik Barat. Kini nama itu terpampang di balai kota London dan New York.
Dan mungkin perubahan besar dalam sejarah memang sering dimulai dari sesuatu yang awalnya terasa mustahil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar