Rabu, April 01, 2026

Instruktur Sujud Tanpa Syahadat

Sore itu, kawasan Grand Depok City sedang memamerkan sisi tenangya. Sinar matahari yang mulai miring menyelinap di antara rimbun pohon peneduh di sepanjang jalan kembar yang lebar, namun di ruang guru SD Pemuda Bangsa, suasana justru terasa sedikit lebih padat oleh urusan batin. Thomas duduk menekuni layar ponselnya dengan ketelitian seorang kurator seni yang sedang memeriksa keaslian lukisan. Di layar itu, sebuah pesan gambar masuk dari nomor Tante Bagas—wali murid yang lebih sering mengirim alasan izin sakit daripada laporan nilai. Namun, kali ini isinya berbeda: sebuah foto Bagas yang sedang bersujud di atas sajadah bergambar Masjid Nabawi yang posisinya miring, seolah-olah kiblat sedang bergeser beberapa derajat ke arah dapur. Thomas memicingkan mata di balik kacamatanya, menghitung titik tumpu tubuh bocah kelas lima itu dengan dahi berkerut. Sebagai seorang Katolik yang taat, syahadat tak pernah melintasi lidahnya, namun sore ini ia memikul beban teologis yang sungsang: ia harus memastikan sujud Bagas tidak menyerupai posisi orang yang hendak push-up, semata-mata karena ia tak ingin bocah itu tumbuh dengan saku spiritual yang bolong di kota yang riuh oleh urusan dunia.

Dua kilometer dari ketenangan ruang guru, di sebuah ruang tamu yang sempit karena sesak oleh jemuran yang belum sempat dilipat, sebuah drama teologis sedang berlangsung. Tante Bagas, dengan daster batik yang warnanya sudah memudar dan ponsel di tangan kanan, sedang memberikan aba-aba layaknya sutradara film aksi yang sedang dikejar tenggat waktu.

"Ayo, Gas! Sujud yang benar! Pantatnya jangan terlalu nungging, nanti Pak Thomas kira kamu lagi mau jungkir balik!" seru sang tante sambil berusaha mencari sudut pengambilan gambar yang pas.

Bagas, bocah kelas lima yang lebih hafal jurus karakter di video gim daripada bacaan ifititah, mengeluh dari atas sajadah. "Tante, kakiku kesemutan! Lagian Pak Thomas kan bukan Pak Haji, mana dia tahu kalau sujudku miring?"

"Justru itu!" sang tante membalas dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya. "Gengsi, Gas! Tante malu kalau guru Katolikmu itu lebih peduli sama sholatmu daripada tantemu sendiri. Ayo, sekali lagi. Tahan posisinya, satu... dua... klik!"

Lampu kilat ponsel menyambar wajah Bagas yang sedang menempel ke lantai. Bagas bangkit dengan wajah merah padam, bukan karena khusyuk, tapi karena hidungnya baru saja mencium aroma pewangi lantai yang terlalu tajam. Ia menatap tantenya dengan tatapan pasrah—tatapan seorang anak yang merasa ibadahnya telah berubah menjadi tugas administrasi negara.

Bagi Bagas, sholat sore ini bukan tentang menghadap Tuhan, melainkan tentang memuaskan kamera ponsel tantenya agar bisa segera kembali ke depan layar televisi. Ia tidak mengerti mengapa Pak Thomas, yang setiap pagi menyapanya dengan kalung salib di balik kemeja, tiba-tiba menjadi "polisi moral" bagi rukuk dan sujudnya.

"Selesai?" tanya Bagas penuh harap.

"Belum! Pak Thomas minta foto pas duduk di antara dua sujud juga. Katanya biar urutannya lengkap," jawab tantenya sambil jempolnya sibuk mengetik pesan di WhatsApp. "Dia bilang, dia nggak mau kamu cuma pinter matematika tapi bolong di urusan yang satu ini. Duh, Gusti... guru macam apa ini, kok malah tantenya yang disuruh tobat lewat keponakan sendiri?"

Di luar, senja di Depok mulai turun dengan perlahan. Sinar oranyenya menimpa pagar-pagar rumah yang rapat, sementara di dalam rumah itu, sebuah "ibadah" baru saja terekam dalam format digital, siap untuk dikirim melintasi batas-batas iman demi sebuah laporan pendidikan karakter yang paling aneh di abad ini.

Di ruang guru yang kian lengang, Thomas tak segera beranjak. Di atas mejanya, selain tumpukan buku tematik dan penggaris kayu, kini terbuka sebuah tab di peramban ponselnya: “Panduan Sholat Lengkap untuk Pemula”. Ia membacanya dengan saksama, seolah sedang menelaah silabus kurikulum darurat. Thomas merasa seperti seorang penyelundup; ia mencuri-curi ilmu tentang rukun sholat bukan untuk berpindah keyakinan, melainkan untuk menambal lubang di jiwa muridnya yang ia temukan menganga di kelas lima.

"Pak Thomas, belum pulang?" suara Pak Mansur, guru Agama Islam, memecah keheningan. Ia sedang merapikan tasnya, siap menerjang jalanan GDC menuju rumah.

Thomas tersenyum tipis, jempolnya dengan tangkas menutup tab panduan sholat itu. "Sebentar lagi, Pak Mansur. Masih ada urusan administrasi sedikit."

Ia tak sanggup menceritakan pada Pak Mansur bahwa "administrasi" yang ia maksud adalah memantau perkembangan sujud Bagas. Ada rasa sungkan yang halus—ia khawatir Pak Mansur merasa dilangkahi wewenangnya, atau lebih buruk lagi, Bagas akan mendapat teguran keras karena sudah besar tapi belum bisa sholat. Bagi Thomas, membiarkan Bagas belajar secara "privat" lewat kamera ponsel adalah cara paling terhormat untuk menjaga martabat bocah itu di depan kawan-kawannya yang sudah lebih dulu fasih.

Sementara itu, di rumahnya yang rimbun oleh suara televisi, Bagas sedang bergumul dengan sarung milik almarhum kakeknya yang kedodoran. Sarung itu berbahan kaku, membuat setiap gerakannya terdengar seperti gesekan kertas semen.

"Tante, ini sarungnya melorot terus! Kenapa nggak boleh pakai celana panjang saja? Kan yang penting tertutup?" protes Bagas sambil membetulkan letak kain di pinggangnya untuk kesepuluh kalinya.

"Heh, Pak Thomas itu orangnya detail! Kalau kamu pakai celana, nanti dia kira kamu mau main bola, bukan sholat. Harus pakai sarung supaya aura 'anak sholeh'-nya keluar di foto," balas tantenya sambil mengatur pencahayaan dari lampu neon yang berkedip-kedip. "Ayo, posisi duduk di antara dua sujud. Tegak sedikit, jangan kayak orang ngantuk!"

Bagas pun menurut, meski pikirannya melayang pada Ayahnya yang entah di mana dan Ibunya yang hanya menyapa lewat panggilan video sebulan sekali. Di tengah ketidakhadiran orang tua yang seharusnya mengajarinya bersujud, ia justru menemukan sosok "pengawas langit"-nya pada seorang guru berkalung salib yang tinggal di sisi lain kota. Baginya, Pak Thomas adalah alarm yang lebih nyaring daripada suara muazin di masjid komplek.

Satu getaran masuk ke ponsel Thomas. Sebuah foto baru muncul: Bagas duduk bersimpuh, wajahnya tampak tegang menghadap kamera, dengan sarung yang menggembung di bagian perut. Thomas memperhatikan detail kaki Bagas yang melipat di bawah tubuhnya. Ia mencocokkan dengan gambar di situs panduan tadi.

"Ah, tumitnya masih belum tegak," gumam Thomas pelan, hampir tak terdengar. Ia mulai mengetik balasan dengan jempolnya yang tenang. "Bagus, Bagas. Tapi besok coba jempol kakinya ditekuk sedikit ya, supaya lebih mantap. Bapak tunggu foto sholat Maghrib nanti."

Thomas menghela napas panjang, memasukkan ponsel ke saku kemejanya, lalu melangkah keluar ruang guru. Di koridor sekolah yang sunyi, ia merasa bebannya sedikit ringan. Ia bukan sedang mengajar agama, ia hanya sedang memastikan bahwa di saku Bagas yang kosong itu, setidaknya ada satu alamat yang bisa bocah itu tuju saat ia merasa kehilangan arah nanti.

Thomas melangkah keluar dari gedung sekolah menuju area parkir yang kini hanya menyisakan beberapa kendaraan. Jalanan Grand Depok City di depannya tampak basah, sisa hujan singkat yang hanya sempat membasahi aspal tanpa mendinginkan udara. Ia menyalakan mesin motornya, membiarkannya menderu pelan sejenak sembari jemarinya meraba saku kemeja—memastikan benda pipih yang berisi seluruh "arsip iman" Bagas itu tersimpan aman.

Ia membayangkan Bagas di seberang sana, mungkin sekarang sudah melepas sarung kaku itu dengan lega, melemparkannya ke atas tumpukan jemuran, dan kembali menjadi bocah kelas lima yang sibuk dengan gawai atau kartun sore. Sementara si tante, barangkali sedang menghela napas panjang, merasa telah menunaikan fardu kifayah yang aneh: menjadi asisten sutradara bagi keponakannya demi memuaskan rasa ingin tahu seorang guru Katolik.

Thomas menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, secara administratif, tugasnya adalah mengajar matematika dan memastikan nilai-nilai karakter tercantum di dalam rapor. Namun, di kota seperti Depok, di mana spanduk-spanduk religius berkibar di setiap tikungan jalan, ia menemukan ironi yang paling sunyi: seorang anak bisa tumbuh besar tanpa tahu bagaimana cara bersujud kepada Tuhannya sendiri, sampai seorang guru yang memakai salib di balik kemejanya harus turun tangan untuk mengingatkan.

"Pak Thomas, duluan!" sapa petugas keamanan di gerbang sekolah.

Thomas mengangguk ramah. "Mari, Pak."

Sepanjang jalan pulang, ia melewati masjid-masjid yang mulai mengumandangkan puji-pujian menjelang Maghrib. Suara itu bersahut-sahutan di udara GDC yang tenang. Thomas tersenyum tipis di balik helmnya. Ia merasa baru saja menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar nilai ujian. Ia tidak sedang mencoba mengubah Bagas menjadi saleh, ia hanya sedang berusaha agar Bagas tidak menjadi orang asing di rumah ibadahnya sendiri.

Malam nanti, ia tahu ponselnya akan bergetar lagi. Akan ada foto sujud yang lain, mungkin dengan sudut pandang yang lebih baik, atau mungkin dengan sarung yang tidak lagi melorot. Dan Thomas, sang instruktur sujud yang tak pernah bersyahadat itu, akan dengan sabar memeriksa setiap lipatan jari kaki dan posisi dahi di layar ponselnya. Ia akan terus menjadi "jembatan" yang canggung, berdiri di perbatasan dua keyakinan, memastikan seorang anak kelas lima tidak tersesat dalam saku yang kosong—saku yang selama ini luput diisi oleh cinta yang semestinya.

Di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, Thomas melaju pelan. Ia merasa bahwa di dunia yang penuh dengan perdebatan tentang siapa yang paling benar, melakukan hal yang baik—sekecil apa pun, sepaling aneh apa pun—adalah bentuk doa yang paling jujur yang bisa ia persembahkan.

Grand Depok City, sore awal April 2026 yang sedang hujan

Cerpen: Lais Abid

Tidak ada komentar:

advertisment